Senin, 24 November 2014   |   Tsulasa', 1 Shafar 1436 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

29 Juli 2007

Novel ”Bulang Cahaya”: Antara Cinta, Kekuasaan, dan Marwah

Novel ”Bulang Cahaya”: Antara Cinta, Kekuasaan, dan Marwah

Judul Buku
:
Bulang Cahaya
Sebuah Novel
Penulis
:
Rida K Liamsi
Penerbit:
JP Book, Surabaya
Cetakan
:
Pertama, Juli 2007
Tebal
:
vi + 328 halaman
Ukuran
:
14 x 20,5 cm
 

Kekuasaan cenderung korup, begitulah pemeo orang bijak yang memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan, sekaligus juga keburukan. Di tangan orang yang telengas, kekuasaan dapat menghancurkan kemanusiaan. Sebaliknya, di tangan orang bijak, sangat mungkin ia memancarkan kemaslahatan dan kebaikan bagi masyarakat. Sesungguhnya, kekuasaan seperti sebuah garis tipis yang berada di perbatasan kebaikan dan keburukan. Sekali waktu, ia lantang meneriakkan keadilan dan kebenaran. Dalam waktu yang lain, boleh jadi ia tergelincir, melukai dan mezalimi manusia lain. Jadi, sangat mungkin ia bolak-balik berada dalam kebaikan dan keburukan. Ia menjadi sesuatu yang relatif, bergantung pada penafsiran: menguntungkan siapa dan untuk kepentingan pihak mana.

Novel Bulang Cahaya karya Rida K Liamsi laksana hendak mewartakan, betapa rumitnya problem kekuasaan ketika berbagai kepentingan dan tafsir subjektif memasuki wilayah kekuasaan. Tentu saja novel ini tidak mengungkapkan konsep kekuasaan an sich, sebagaimana yang dirumuskan dalam dunia akademik. Rida K Liamsi justru membungkusnya dalam kisah percintaan yang kemudian menggelinding, merembes dan memancar dalam kehidupan penguasa di Kerajaan Lingga. Ia menjadi sebuah kisah eksotik ketika cinta dan kekuasaan menyelusupkan dalam permainan sejumlah tokoh rekaan novel itu. Maka yang segera hadir kemudian adalah serangkaian intrik politik, kelincahan bersiasat, dan kepiawaian memanfaatkan momentum.

Di antara berseliwerannya kekuasaan menebas nasib seseorang, menciptakan persaingan antar-puak, konflik antar-etnik, atau bahkan juga mendatangkan peperangan antar-bangsa sebagaimana yang digambarkan dalam novel ini, menyeruak pula kisah cinta yang unik dan dramatis. Bagian kisah percintaan itulah yang justru menjadi sumber dan sekaligus muara yang menggiring kekuasaan menjadi begitu problematik. Di situlah kisah cinta dan kekuasaan atas nama adat-istiadat Melayu, memancarkan eksotismenya.

Secara struktural, novel ini dibangun dengan menggunakan pola cerita berbingkai. Bagian Prolog adalah bingkai awal yang mengantarkan tokoh Raja Arief sampai pada sebuah naskah kuno berbahasa Arab-Melayu yang dikirim sahabatnya dari Belanda, Jan van der Plas. Naskah inilah yang menjadi pintu masuk pembaca menjelajahi cerita inti: percintaan Raja Djaafar –anak bangsawan Bugis-Melayu dengan Tengku Buntat –anak bangsawan Melayu. Bagian Epilog adalah bingkai akhir yang mengisyaratkan, bahwa kisah cinta Raja Djaafar dengan Tengku Buntat adalah representasi universalitas problematika cinta. Ia universal lantaran cinta tidak mengenal ruang dan waktu, menerabas melewati batas usia, agama, etnik, bangsa atau apa pun. Kekuasaan yang berusaha memenggal kisah cinta dua sejoli itu, ternyata tidak mampu membunuh asmara mereka, meskipun secara fisik mereka gagal memasuki ikatan perkawinan.

Agak berbeda dengan kisah kasih tak sampai yang berakhir secara tragis, seperti kisah cinta abadi Uda dan Dara (Malaysia), Romeo dan Juliet (Italia), Pranacitra dan Roro Mendut (Jawa), Ohatsu dan Tokubei (Jepang), sampai ke kisah cinta Cleopatra (Yunani—Mesir), percintaan Raja Djaafar dan Tengku Buntat dalam Bulang Cahaya, tidak berakhir dengan kematian, melainkan berakhir pada peristiwa yang jauh lebih dahsyat: terbelahnya Kerajaan Melayu yang kemudian bermuara pada Traktat London, 1824. Kekuasaan yang direpresentasikan atas nama Raja atau Penguasa, reputasi dan keagungan puak, kekayaan dan martabat keluarga, ternyata tak dapat begitu saja membenamkan perasaan cinta ketika ia telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari denyut hati. Di sana, cinta menyatu dengan ruh dan hanya kematian yang dapat menyelesaikan kisah cinta abadi itu.

Meski model kisah cinta Raja Djaafar dan Tengku Buntat bukan hal yang baru dalam sejarah umat manusia, terjadi di belahan bumi mana pun, dan menimpa siapa pun dari suku bangsa mana pun di dunia ini, selalu saja ada sesuatu yang unik dan khas yang membedakannya dengan kisah cinta yang lain. Dalam hal itulah, novel ini tidak hanya menyodorkan tema universal tentang kisah kasih tak sampai, tetapi juga mewartakan sebuah pandangan kultural tentang perjalanan sejarah sebuah puak yang bernama Melayu. Bahkan, lebih daripada itu, mengingat novel ini juga memanfaatkan sejarah dan mitos-mitos dunia Melayu, maka secara ideologis, ia seperti hendak membuat tafsir lain tentang kisah Melayu-Bugis, teristimewa tentang terbelahnya kekuasaan Kerajaan Lingga, Johor, dan Temasek —sebuah bandar internasional yang kini bernama Singapura.

Dilihat dari pemanfaatan peristiwa sejarah sebagai latar cerita, Bulang Cahaya jelas merupakan sumbangan penting bagi khazanah novel Indonesia lantaran ia ikut memperkaya latar novel sejenis. Sejarah Kerajaan Melayu, sejauh pengamatan, baru disentuh Taufik Ikram Jamil dalam novelnya Hempasan Gelombang (1999) dan Gelombang Sunyi (2001). Di luar kisah kerajaan itu, latar sejarah dalam banyak novel Indonesia, sejak Hulubalang Raja karya Nur Sutan Iskandar, Tambera karya Utuy Tatang Sontani, Burung-Burung Manyar karya Mangunwijaya, sampai ke tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, kerap mengungkapkan serangkaian peristiwa individual yang luput dari catatan sejarah. Di sinilah novel (: sastra) memainkan peranannya dalam memanfaatkan peristiwa faktual sebagai fakta dalam kemasan fiksional. Tanpa itu, ia akan tergelincir menjadi novel sejarah yang artifisial lantaran beban sejarah yang terlalu dipaksakan.

Novel Bulang Cahaya pada awalnya terkesan hendak berkisah tentang salah satu bagian dari perjalanan sejarah Kerajaan Lingga. Dengan menggunakan bentuk kilas-balik, cerita dimulai dari luka hati yang dialami Raja Djaafar atas keputusan politik Yang Dipertuan Besar Mahmud untuk menghentikan perang saudara antara Melayu dan Bugis. Salah satu keputusan politik itu adalah penyatuan Melayu-Bugis melalui perkawinan Tengku Buntat dengan Tengku Husin, putra Sultan Mahmud. Inilah awal putusnya percintaan Raja Djaafar dengan Tengku Buntat. Sambil membawa dendam kebencian dan cinta, pemuda Bugis itu hijrah ke Selangor.

Tetapi putaran nasib membawa Raja Djaafar kembali ke Riau. Ia diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda, sebuah jabatan penting yang memberi kekuasaan besar dalam roda pemerintahan kerajaan. Di sinilah Raja Djaafar berhadapan dengan problem pribadi dan tugas kerajaan. Cerita kemudian mengalir dengan pusat penceritaan jatuh pada tokoh Raja Djaafar. Antara kekuasaan dan cinta seperti berjalin kelindan di antara tafsir dan pemaknaan konsep kekuasaan.

Dalam hal tersebut, Rida K Liamsi seperti hendak menegaskan, bahwa kisah kasih tak sampai yang terjadi pada diri Raja Djaafar dan Tengku Buntat, bukanlah sekadar tempelan, melainkan bagian dari intrik politik dan semangat menjalankan kekuasaan sesuai dengan tradisi dan adat-istiadat kerajaan. Maka, tak terelakkan petatah-petitih, etika, norma, tatakrama, dan segala perbuatan yang dilandasi oleh ruh kultur leluhur, dihadirkan di sana-sini sebagai bagian integral perilaku tokoh-tokohnya. Inilah kisah cinta zaman kerajaan yang masih memancarkan daya pukaunya. Kita (: pembaca) seolah-olah hendak digiring memasuki ceruk dan lika-liku berbagai peristiwa dalam kehidupan kerajaan Lingga. Pada awalnya, kisahan bergerak agak lambat. Belakangan, ketika terjadi perebutan pengaruh, kekuasaan, intrik dan sejumlah manuver politik, dengan kisah cinta Raja Djaafar dan Tengku Buntat sebagai perekatnya, kisahan dalam novel itu seperti bergerak cepat dengan konflik-konflik psikologis digunakan sebagai permainan tegangan (suspense).

***
Jika diyakini sastra (novel) memberi hiburan yang mendidik (dulce et utile) atau pendidikan yang menghibur —menikmatkan (didactic heresy) sebagaimana dikatakan Edgar Allan Poe, maka novel Bulang Cahaya telah memenuhi syarat itu. Ia tidak sekadar menyodorkan fakta dan peristiwa sejarah Kerajaan Melayu secara meyakinkan, tetapi juga menyelusupkan ideologi pengarangnya tentang posisi Melayu dan Bugis dalam perspektif historiografi yang berimbang. Dari sanalah semangat dan élan atas sebuah komunitas kultural menunjukkan jati dirinya dalam keagungan marwah Melayu. Bagaimana misalnya, tunjuk ajar Melayu tetap dipertahankan, meski di sana ada intrik politik dan konflik kepentingan. Bagaimana konsep durhaka dipandang sebagai tindak perbuatan yang nista dan tak bermartabat. Begitulah, Bulang Cahaya seperti merepresentasikan etika, adab, norma, tradisi, dan adat-istiadat Melayu yang tidak hanya menjadi mitos masa lalu untuk memelihara harapan masa depan, tetapi juga sebagai potret bagaimana kekuasaan dijalankan atas nama marwah dan kepentingan negara.

Meskipun novel ini sesungguhnya sangat kaya dengan kisah masa lalu Kerajaan Melayu, lengkap dengan segala tunjuk ajar dan ruh kebudayaannya, kecenderungan pengarang untuk menyelimuti pesan ideologis di balik naskah yang dikirimkan Jan van der Plas, mengesankan semangat pengarang untuk berada dalam posisi yang netral. Hal lain yang mungkin bakal menciptakan semacam hingar (noise) bagi pembaca yang belum akrab dengan dunia Melayu adalah bermunculannya begitu banyak nama dan gelar-gelar kebangsawanan, di samping narasinya yang terasa sangat Melayu. Meski begitu, problem itu menguap dengan sendirinya lantaran segala peristiwa difokuskan pada muara yang sama: percintaan Raja Djaafar dan Tengku Buntat. Kisah cinta itulah yang merekatkannya.

Bahwa persoalan marwah menjadi titik tekan sebagai tema sentra novel ini, tampak pula dari ketokohan Raja Djaafar yang tetap bergeming atas segala tindakan politik yang telah diputuskannya. “Pantang ludah dijilat kembali. Pantang keputusan yang sudah dibuat, ditarik kembali. Kalau sampai terjadi, sungguh beta ini peranakan Bugis yang tak tahu diri, yang tak bermarwah. Apalagi yang dipegang orang, selain kata-kata kita,” itulah sikap seorang kesatria: konsisten dan meyakini bahwa tindakannya benar dan tidak dipengaruhi oleh berbagai kepentingan subjektif.

Selain ketokohan Raja Djaafar yang tetap berteguh pada hasrat mengabdikan diri pada negera, Raja Husin yang mengusung makna persahabatan sejati, ada dua tokoh penting lainnya, yang juga berkarakter kuat, meski keduanya berseberangan dengan sikap tokoh Raja Djaafar. Kedua tokoh itu adalah tokoh Engku Putri, permaisuri Mahmudsyah. Dengan keyakinan bahwa adat-istiadat harus tetap dijaga dan dipertahankan, ia tak dapat melakukan kompromi politik, meskipun yang dihadapi adalah abangnya sendiri, Raja Djaafar. Perhatikan kutipan berikut yang memperlihatkan keteguhan sikap tokoh ini:

“Bentangkan layar. Pulang ke Penyengat. Biarkan beta yang menananggung akibatnya. Hanya ini lagi yang jadi marwah kerajaan. Kalau regelia ini pun sudah digunakan untuk yang salah, tak ada lagi gunanya. Tak ada lagi marwah. Tak ada lagi adat berkerajaan. Biarkan Raja Djaafar yang menanggung beban hinaan itu.”

Satu tokoh lagi, tak pelak adalah Tengku Buntat. Sungguh luar biasa seorang perempuan. Meskipun Tengku Buntat bukan setara Cleopatra. Bukan setanding putri Syahrazad. Tragedi cintanya mungkin dapat disamakan dengan tragedi cinta putri Helen dari Troya, sebuah legenda tentang cinta. Sebuah epos dari era Yunani kuno. Ia pada akhirnya harus mengikuti suaminya bersekutu membelah kerajaan Lingga, meski cintanya tetap abadi pada tokoh Raja Djaafar.

***
Di luar persoalan itu, novel ini sesungguhnya potensial menjadi karya agung –sebagaimana kisah-kisah cinta abadi yang terjadi di berbagai belahan dunia— jika pengarang punya kesabaran untuk membaluri segala peristiwa itu dengan penghadiran suasana cerita, menyebarkan konflik-konflik batin, dan memberi sentuhan teknik pengaluran yang lebih beragam.

Akhirnya mesti saya nyatakan, bahwa dalam sejarah novel Indonesia kontemporer, harus diakui: inilah novel sejarah yang mengasyikkan, novel politik yang bermarwah, dan novel percintaan yang mencerdaskan! Saya menikmatinya seperti memasuki sebuah wisata budaya ke dunia masa lalu tentang kisah Kerajaan Melayu yang akhirnya terbelah. Syabas dan Tahniah!***

Oleh : Maman S Mahayana

(Salah seorang kritikus sastra terkemuka Indonesia saat ini, dan memiliki perhatian yang intens terhadap sastra Melayu. Mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dan telah menerbitkan banyak buku tentang kritik dan telaah sastra. Tinggal di Depok, Jawa Barat)

Sumber : Riau Pos


Dibaca : 52268 kali.