Sabtu, 19 April 2014   |   Ahad, 18 Jum. Akhir 1435 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

25 Februari 2010

Rumah Melayu: Memangku Adat Menjemput Zaman

Rumah Melayu: Memangku Adat Menjemput Zaman

Judul Buku
:
Rumah Melayu: Memangku Adat, Menjemput Zaman
Penulis
:
Mahyudin Al Mudra
Penerbit
:
BKPBM dan Adicita, Yogyakarta
Cetakan
:
Juni 2004
Tebal
:
xxvii + 165 halaman
Ukuran
:
21 x 24 cm

Seni bina pada setiap kebudayaan biasanya memiliki ciri khas. Kekhasan tersebut berkaitan dengan fungsi bangunan, model, ornamen dan makna simbolik yang dikandung oleh setiap elemen bangunan. Dalam budaya Melayu, seni bina tersebut juga memiliki ciri khas yang terefleksi pada simbol-simbol bangunan yang sarat makna. Saat ini, bangunan-bangunan yang berarsitektur Melayu masih dapat ditemui di beberapa daerah di Nusantara, Semenanjung Malaysia, Brunei Darussalam dan negara rumpun Melayu lainnya, namun, yang masih bisa dinikmati kekhasannya hanyalah tempat-tempat ibadah, misalnya Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau; Masjid Syekh Abdurrahman Siddiq al Banjari, di Indradiri Hilir, Riau; dan Masjid Lama Kraton Melayu Sambas, Kalimantan Barat. Sedangkan bangunan tempat tinggal sudah sangat jarang dijumpai, kalau pun ada, hanyalah tinggal istana-istana kerajaan yang jarang mendapat perhatian.

 Kondisi di atas mungkin bisa dimaklumi, karena perubahan zaman memang tidak dapat dielakkan lagi. Kemajuan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi telah mempengaruhi perkembangan kebudayaan, termasuk kebudayaan Melayu. Akibatnya, rumah Melayu tradisional kemudian semakin  ditinggalkan, sebagai gantinya, kemudian tumbuh berkembang rumah Melayu modern yang menggunakan arsitektur dan bahan bangunan yang berbeda.

Meskipun demikian, perubahan model arsitektur dan bahan bangunan dalam rumah Melayu modern, tidak sampai mengubah makna dan nilai simbolik yang terkandung dalam rumah Melayu tradisional. Dengan demikian, adat dan nilai tetap dijunjung, walau zaman telah berubah. Itulah yang dimaksud oleh Mahyudin Al Mudra dengan “memangku adat menjemput zaman” dalam bukunya: Rumah Melayu: Memangku Adat, Menjemput Zaman. Dalam buku ini, Mahyudin membedah secara luas dan mendalam simbol-simbol dan nilai yang terkandung dalam arsitektur rumah Melayu.

Dalam masyarakat tradisional Melayu, rumah memiliki arti yang penting, bukan saja sebagai tempat tinggal di mana seseorang atau satu keluarga melakukan kegiatan hariannya, tetapi juga menjadi lambang kesempurnaan hidup. Maka dari itu, pembangunan rumah selalu dilakukan dengan hati-hati, dengan memperhatikan segala unsur unsur-unsur  perlambangan yang merupakan refleksi nilai budaya. Dengan terpenuhinya unsur-unsur tersebut, maka sebuah rumah diyakini akan menjadi suatu ruang yang membawa kebahagiaan lahir dan batin bagi penghuni rumah dan masyarakat sekitarnya.

Dalam masyarakat Melayu tradisional, rumah merupakan bangunan utuh yang dapat dijadikan tempat kediaman keluarga, tempat bermusyawarah, tempat beradat berketurunan, tempat berlindung bagi siapa saja yang memerlukan. Oleh sebab itu, rumah Melayu tradisional umumya berukuran besar, biasanya bertiang enam, tiang enam berserambi dan tiang dua belas atau rumah serambi. Selain berukuran besar, rumah Melayu juga selalu berbentuk panggung atau rumah berkolong, dengan menghadap ke arah matahari terbit. Secara umum, jenis rumah Melayu meliputi rumah kediaman, rumah balai, rumah ibadah dan rumah penyimpanan. Penamaan itu disesuikan dengan fungsi dari setiap bangunan.

Yang paling menarik dari arsitektur rumah Melayu ialah simbol-simbol yang terdapat pada bagian-bagian rumah; atap, tiang, tangga, pintu, jendela, dinding, dan lain sebagainya. Dan, terdapat pula beberapa macam arsitektur untuk setiap bagian rumah yang memiliki arti tersendiri. Misalnya atap lontik. Atap lontik ini berciri kedua perabungnya melentik ke atas, yang melambangkan bahwa pada awal dan akhir hidup manusia akan kembali kepada penciptanya. Sementara lekukan pada pertengahan perabungnya melambangkan ‘lembah kehidupan‘ yang terkadang penuh dengan berbagai macam cobaan (h.38). Simbol-simbol itu biasa diiringi dengan ornamen yang khas dan memiliki makna tertentu pula, dan ada kalanya juga dihiasi dengan kaligrafi Arab.

Bisa dikatakan, hampir seluruh elemen yang ada dalam rumah Melayu mengandung nilai budaya. Misalnya, kamar dara yang terletak di atas loteng atau para-para dengan jalan masuk dan keluarnya dari ruang tengah, dimaksudkan untuk menjaga keselamatan dan mengontrol perilaku si anak dara. Hal ini sangat penting dilakukan, karena sifat, sikap dan perilaku anak dara tersebut berkaitan dengan kehormatan serta harga diri keluarga (h.80).

Hal ihwal dan detail tentang rumah Melayu cukup terangkum dalam buku ini. Selain itu, penulis buku ini juga memberikan gambar-gambar untuk melengkapi setiap uraiannya. Buku yang berisikan lima puluh gambar arsitektur Melayu ini, dedikasikan untuk melestarikan dan mengembangkan arsitektur Melayu yang sarat dengan muatan simbol dan pandangan hidup.

Bagian lain yang paling menarik dalam buku ini ialah, uraian tentang bagaimana mempertahankan simbol-simbol pada rumah Melayu tradisional  dalam arsitektur rumah Melayu modern. Contoh dari usaha tersebut adalah rumah Melayu modern yang dibangun Mahyudin di Yogyakarta. Walaupun rumahnya modern, tapi simbol dan nilai-nilai tradisional yang terkandung dalam rumah Melayu tradisional tetap ia pertahankan.

Setidaknya, kehadiran buku yang mendapatkan anugerah ‘Sagang Award‘ tahun 2003 ini dapat menjadi panduan bagi orang Melayu dalam merancang bagunan yang besendikan nilai kemelayuan di zaman modern.


Oleh : Abd. Rahman Mawazi

Dibaca : 19835 kali.